Showing posts with label Dewa. Show all posts
Showing posts with label Dewa. Show all posts

Saturday, April 17, 2010

Ratana Sutta

Ratana Sutta adalah sebuah contoh yang sangat bagus, diantara khotbah-khotbah seperti yang digambarkan diatas, yang memiliki asal mula sendiri pada masa Sang Buddha hidup di kota Vesali yang makmur. Sutta ini dianggap sebagai sebuah Sutta yang memiliki kekuatan besar dalam menolong penduduk Vesali menanggulangi bencana kelaparan, makhluk-makhluk halus jahat, dan malapetaka. Bahkan hingga sekarang, umat Buddhis di seluruh dunia memberikan penghormatan besar terhadap Sutta ini, membacanya setiap hari dan memperoleh berkah serta perlindungan darinya dalam kehidupan sehari-hari.

Sutta ini muncul pada suatu masa, ketika kota makmur Vesali berada pada suatu kondisi kemerosotan dimana penduduknya terancam oleh bencana kelaparan, makhluk-makhluk halus jahat, serta wabah penyakit.

Malapetaka ini memuncak hingga banyak kematian terjadi dan diperburuk dengan para makhluk-makhluk halus jahat yang selalu menghantui karena tertarik pada mayat-mayat yang membusuk. Rasa panik menyerang kota. Pada masa kritis tersebut, dua orang bangsawan Licchavi beserta sekelompok besar pengikutnya pergi menemui Sang Buddha yang sedang berdiam di Rajagaha dengan tujuan meminta pertolongannya.

Sang Buddha, setelah mendengar dukacita dan keputusasaan mereka, dengan penuh simpati dan belas kasih menerima undangan bangsawan tersebut. Sang Buddha beserta serombongan besar Bhikkhu segera meninggalkan Rajagaha menuju Vesali. Dikatakan bahwa Yang Mulia Ananda Thera ikut dalam rombongan ini. Setelah menyeberangi sungai Gangga, mereka akhirnya mencapai kota. Sebuah fenomena yang aneh terjadi. Turunlah hujan yang amat deras menyapu dengan bersih mayat-mayat yang telah membusuk dari kota dan menghilangkan bau udara yang tidak sedap. Kemudian Sang Buddha dengan penuh welas asih membacakan Ratana Sutta untuk penduduk kota Vesali.

Yang Mulia Ananda Thera diinstruksikan untuk mengulang membaca Ratana Sutta untuk penduduk di seluruh penjuru kota Vesali. Air yang telah diberkahi kemudian dipercikkan dari mangkuk milik Sang Buddha. Oleh karena kekuatan kebahagiaan Sutta, semua makhluk halus jahat meninggalkan kota dan penduduk segera terbebas dari pengaruh jahat dan keji mereka. Berakhirlah bencana dan malapetaka pada kota tersebut.

Pemberkahan dan perlindungan yang berasal dari Ratana Sutta yang dibacakan pada masa Sang Buddha masih hidup, tetap dapat digunakan hingga saat ini. Ratana Sutta yang diuraikan oleh Sang Buddha kepada para penduduk Vesali yang sedang di Balai Umum sebenarnya telah diuraikan secara persis sebanyak tak terhingga kali oleh Buddha Buddha sebelumnya. Makna dan arti sutta ini telah dijelaskan dalam berbagai pertemuan oleh komunitas Bhikkhu pada masa ini dalam berbagai kesempatan. Umat Buddhis terus memperoleh manfaat dari pembacaan dan praktek ajaran-ajaran yang terdapat dalam Sutta ini.

Istilah Palu "Ratana" dikenal sebagai "Permata Mulia". Dikenal demikian tertuju kepada Buddha, Dhamma, dan Sangha. Kumpulan kebajikan-kebajikan dari Tiga Mustika ini mengundang para bijaksana untuk mempratekkan ajaran sebagai sebuah alat untuk menyeberangi lautan kehidupan dan kematian, menuju pada tujuan utama, Nibbana.
Dalam Pertama Mulia termuat berbagai sifat-sifat bajik yang dapat dipratekkan para bijaksana dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Adalah melalui pengendalian nafsu pikiran hingga sampai pada gerbang ketenangseimbangan sebagai buah pikiran konsentrasi, dimana jalan kematian telah dihilangkan setahap demi setahap menghapus kepercayaan akan adanya roh yangkekal, keragu-raguan, dan kemelekatan pada ritual dan upacara, para bijaksana telah sepenuhnya terbebaskan dari empat alam menyedihkan.

Makhluk bumi dan makhluk nafa diundang untuk membagikan berkah dan kebahagiaan dari Khotbah Ratana. Dikatakan bahwa Raja para dewa, Sakka, mengulang tiga syair terakhir dari Sutta tersebut dan ikut mendatangi Sang Buddha bersama para pengikutnya di Vesali pada saat khotbah penutupan terakhir yang diselenggarakan di Balai Umum.

 

Yānīdha bhūtāni samāgatāni,
Bhummāni vā yāni antalikkhe,
Sabbeva bhūtā sumanā bhavantu,
Athopi sakkacca sunantu bhāsitam.
Tasmā hi bhūtā nisāmetha sabbe,
Mettam karotha mānusiyā pajāya,
Divā ca ratto ca haranti ye balim,
Tasmā hi ne rakkhatha appamattā.
Yam kiñci vittam idha vā huram vā,
Saggesu vā ya ratanam panītam,
Na no samam atthi Tathāgatena,
Idampi Buddhe ratanam panitam,
Etena saccena suvatthi hotu!
Khayam virāgam amatam panītam,
Yadajjhagā sakyamunī samāhito,
Na tena dhammena samatthi kiñci,
Idampi Dhamme ratanam panitam,
Etena saccena suvatthi hotu!
Yam Buddha settho parivannayī sucim,
Samādhimānantarikaññamāhu,
Samādhinā tena samo na vijjati,
Idampi Dhamme ratanam panītam,
Etena saccena suvatthi hotu!
Ye puggalā attha satam pasatthā,
Cattāri etāni yugāni honti,
Te dakkhineyyā sugatassa sāvakā,
Etesu dinnāni mahapphalāni,
Idampi Sanghe ratanam panītam,
Etena saccena suvatthi hotu!
Ye suppayuttā manasā dalhena,
Nikkāmino *Gotama-sāsanamhi,
Te pattipattā amatam vigayha,
Laddhā mudhā nibbuti bhuñjamānā,
Idampi Sanghe ratanam panītam,
Etena saccena suvatthi hotu!
Yathindakhīlo pathavim sito siyā,
Catubbhi vāthehi asampakampiyo,
Tathūpamam sappurisam vadāmi,
Yo ariya-saccāni avecca passati,
Idampi Sanghe ratanam panītam,
Etena saccena suvatthi hotu!
Ye ariya-saccāni vibhāvayanti,
Gambhīra-paññena sudesitāni,
Kiñcāpi te honti bhusappamattā,
Na te bhavam atthamam ādiyanti,
Idampi Sanghe ratanam panītam,
Etena saccena suvatthi hotu!
Sahāva ‘ssa dassana-sampadāya,
Tayassu dhammā jahitā bhavanti,
Sakkāya-ditthi vicikicchitañca,
Sīlabbatam vāpi yadatthi kiñci.
Catūh’ apāyehi ca vippamutto,
Chaccābhithānāni abhabbo kātum,
Idampi Sanghe ratanam panītam,
Etena saccena suvatthi hotu!
Kiñca pi so kammam karoti pāpakam,
Kāyena vācā uda cetasā vā,
Abhabbo so tassa paticchādāya,
Ababbatā dittha-padassa vuttā,
Idampi Sanghe ratanam panītam,
Etena saccena suvatthi hotu!
Vanappagumbe yathā phussitagge,
Gimhāna-māse pathamasmim gimhe,
Tathūpamam dhamma-varam adesayī,
Nibbāna-gāmim paramam hitāya,
Idampi Buddhe ratanam panītam,
Etena saccena suvatthi hotu!
Varo varaññū varado varāharo,
Anuttaro dhamma-vara adesayī,
Idampi Buddhe ratanam panītam,
Etena saccena suvatthi hotu!
Khīnam purānam navam natthi sambhavam,
Viratta-cittā āyatike bhavasmim,
Te khīna-bījā avirulhicchandā,
Nibbanti dhīrā yathāyam padīpo,
Idampi Sanghe ratanam panītam,
Etena saccena suvatthi hotu!
Yānīdha bhūtāni samāgatāni,
Bhummāni vā yāni va antalikkhe,
Tathāgatam deva-manussa-pūjitam,
Buddham namassāma suvatthi hotu!
Yānīdha bhūtāni samāgatāni,
Bhummāni vā yāni va antalikkhe,
Tathāgatam deva-manussa-pūjitam,
Dhammam namassāma suvatthi hotu!
Yānīdha bhūtāni samāgatāni,
Bhummāni vā yāni va antalikkhe,
Tathāgatam deva-manussa-pūjitam,
Sangham namassāma suvatthi hotu!
*********
1. Makhluk apa pun yang berkumpul di sini, baik yang dari dunia maupun dari luar angkasa, semoga semua makhluk itu bahagia. Demikian juga, semoga mereka mendengarkan dengan penuh perhatian apa yang dikatakan.

2. Karena itu, wahai para makhluk, perhatikanlah baik-baik. Pancarkanlah kasih sayang kepada umat manusia yang siang malam memberikan persembahan kepadamu. Karena itu, lindungilah mereka dengan setulus hati.

3. Harta apapun yang ada di sini atau di dunia lain, atau permata tak ternilai apa pun yang ada di alam-alam surga, tidak ada satu pun yang sebanding dengan Sang Tathagata. Permata tak ternilai ini ada di dalam Buddha. Dengan kebenaran ini, semoga ada kedamaian!

4. Manusia bijak dari suku Sakya, yang tenang pikirannya, telah mewujudkan penghentian yang bebas dari nafsu, yang bebas dari kematian, dan luar biasa. Tidak ada sesuatu pun yang sebanding dengan keadaan itu. Permata tak ternilai ini ada di dalam Dhamma. Dengan kebenaran ini, semoga ada kedamaian !

5. Buddha yang agung memuji meditasi murni yang segera memberikan hasil. Tidak ada sesuatu pun yang sebanding dengan meditasi itu. Permata berharga ini ada di dalam Dhamma. Dengan kebenaran ini, semoga ada kedamaian!

6. Delapan individu yang dipuji oleh orang-orang baik2 terdiri dari empat pasang.3 Mereka adalah siswa-siswa Sang Buddha, yang pantas menerima persembahan. Apapun yang dipersembahkan kepada mereka akan memberikan buah yang melimpah. Permata tak ternilai ini ada di dalam Sangha. Dengan kebenaran ini, semoga ada kedamaian!

7. Mereka yang terbebas dari nafsu semuanya mantap di dalam ajaran Gotama yang berpikiran teguh. Mereka telah mencapai apa yang harus dicapai karena telah menyelam ke dalam Nibbana yang bebas dari kematian. Mereka menikmati Kedamaian yang dicapai, yang tak ternilai. Permata tak ternilai ini ada di dalam Sangha. Dengan kebenaran ini, semoga ada kedamaian!

8. Bagaikan gerbang kota yang berfondasi kokoh tidak tergoyahkan oleh angin dari empat penjuru, demikianlah kunyatakan bahwa orang yang sepenuhnya memahami Kebenaran Mulia adalah orang yang baik. Permata tak ternilai ini ada di dalam Sangha. Dengan kebenaran ini, semoga ada kedamaian!

9. Mereka yang dengan jernih memahami Kebenaran Mulia yang telah diajarkan dengan baik oleh Yang Maha Bijaksana, betapapun tidak berhati-hatinya mereka itu, mereka tidak akan terlahir untuk kedelapan kalinya. Permata tak ternilai ini ada di dalam Sangha. Dengan kebenaran ini, semoga ada kedamaian!

10. Tiga kondisi telah ditinggalkan oleh dia pada saat mencapai pandangan terang,4 yaitu: (i) pandangan salah tentang diri, (ii) keraguan, dan (iii) pandangan salah bahwa ritual dan upacara dapat menyelamatkan. Dia juga telah sepenuhnya terbebas dari empat keadaan menderita5 dan tidak dapat lagi melakukan enam kejahatan.6 Permata tak ternilai ini ada di dalam Sangha. Dengan kebenaran ini, semoga ada kedamaian !

11. Kejahatan apa pun yang dilakukan, baik lewat tubuh, ucapan atau pikiran, tak dapat disembunyikannya. Karena telah dikatakan bahwa tindakan semacam itu tidak mungkin dilakukan oleh orang yang telah melihat Sang Jalan.7 Permata tak ternilai ini ada di dalam Sangha. Dengan kebenaran ini, semoga ada kedamaian!

12. Bagaikan pohon-pohon yang pucuknya berbunga pada bulan-bulan pertama musim panas, begitu juga ajaran tertinggi yang menuju ke Nibbana ini diajarkan untuk tujuan tertinggi. Permata tak ternilai ini ada di dalam Sangha. Dengan kebenaran ini, semoga ada kedamaian!

13. Yang Luar Biasa, Yang Maha Mengetahui, Sang Pemberi yang luar biasa, dan Sang Pembawa Kesempurnaan telah membabarkan ajaran yang luar biasa. Permata tak ternilai ini ada di dalam Buddha. Dengan kebenaran ini, semoga ada kedamaian!

14. Dengan musnahnya (kamma) lampau, tidak ada (kamma) baru yang dihasilkan, maka pikiran pun tak melekat pada kelahiran di masa depan -- mereka telah menghancurkan benih-benih tumimbal lahir. Nafsu-nafsu tidak lagi muncul dan para bijaksana itu pergi, sama seperti lampu ini.8 Permata tak ternilai ini ada di dalam Sangha. Dengan kebenaran ini, semoga ada kedamaian!

15. Makhluk apa pun yang berkumpul di sini, baik yang dari dunia maupun dari luar angkasa, marilah kita menghormat Buddha. Sang Tathagata dipuja oleh para dewa dan manusia! Semoga ada kedamaian!

16. Makhluk apa pun yang berkumpul di sini, baik yang dari dunia maupun dari luar angkasa, marilah kita menghormat Dhamma. Sang Tathagata dipuja oleh para dewa dan manusia! Semoga ada kedamaian!

17. Makhluk apa pun yang berkumpul di sini, baik yang dari dunia maupun dari luar angkasa, marilah kita menghormat Sangha. Sang Tathagata, dipuja oleh para dewa dan manusia! Semoga ada kedamaian!

 

KARANIYA METTA SUTTA (Sutta tentang Kasih Sayang yang harus Dikembangkan)
KARANIYAMATTHAKUSALENA
YAN TAM SANTAM PADAM ABHISAMECCA
SAKKO UJU CA SUHUJU CA
SUVACO CASSA MUDU ANATIMANI
SANTUSSAKO CA SUBHARO CA
APPAKICCO CA SALLAHUKAVUTTI
SANTINDRIYO CA NIPAKO CA
APPAGABBHO KULESU ANANUGIDDHO
NA CA KHUDDAM SAMACARE KINCI
YENA VINNU PARE UPAVADEYYUM
SUKHINO VA KHEMINO HONTU
SABBE SATTA BHAVANTU SUKHITATTA
YE KECI PANABHUTATTHI
TASA VA THAVARA VA ANAVASESA
DIGHA VA YE MAHANTA VA
MAJJHIMA RASSAKA ANUKATHULA
DITTHA VA YE VA ADDITTHA
YE CA DURE VASANTI AVIDURE
BHUTA VA SAMBHAVESI VA
SABBE SATTA BHAVANTU SUKHITATTA
NA PARO PARAM NIKUBBETHA
NATIMANNETHA KATTHACI NAM KANCI
BYAROSANA PATIGHASANNA
NANNAMANNASSA DUKKHAMICCHEYYA
MATA YATHA NIYAM PUTTAM
AYUSA EKAPUTTAMANURAKKHE
EVAMPI SABBABHUTESU
MANASAMBHAVAYE APARIMANAM
METTANCA SABBALOKASMIM
MANASAMBHAVAYE APARIMANAM
UDDHAM ADHO CA TIRIYANCA
ASAMBADHAM AVERAM ASAPATTAM
TITTHANCARAM NISINNO VA
SAYANO VA YAVATASSA VIGATAMIDDHO
ETAM SATIM ADHITTHEYYA
BRAHMAMETAM VIHARAM IDHAMAHU
DITTHINCA ANUPAGAMMA
SILAVA DASSANENA SAMPANNO
KAMESU VINEYYA GEDHAM
NA HI JATU GABBHASEYYAM PUNARETI’TI

Inilah yang harus dikerjakan
oleh mereka yang tangkas dalam kebaikan.
Untuk mencapai ketenangan,
Ia harus mampu, jujur, sungguh jujur,
Rendah hati, lemah lembut, tiada sombong.
Merasa puas, mudah disokong/dilayani
Tiada sibuk, sederhana hidupnya
Tenang inderanya, berhati-hati
Tahu malu, tak melekat pada keluarga.
Tidak berbuat kesalahan walaupun kecil
yang dapat dicela oleh Para Bijaksana
Hendaklah ia berpikir :
Semoga semua makhluk berbahagia dan tentram,
Semoga semua makhluk berbahagia.
Makhluk hidup apa pun juga
Yang lemah dan kuat tanpa kecuali
Yang panjang atau besar
Yang sedang, pendek, kecil atau gemuk.
Yang tampak atau tidak tampak
Yang jauh atau pun dekat
Yang terlahir atau yang akan lahir
Semoga semua makhluk berbahagia.
Jangan menipu orang lain
Atau menghina siapa saja.
Jangan karena marah dan benci
Mengharapkan orang lain celaka.
Bagaikan seorang ibu yang mempertaruhkan jiwanya
Melindungi anaknya yang tunggal,
Demikianlah terhadap semua makhluk
Dipancarkannya pikiran (kasih sayangnya) tanpa batas.
Kasih sayangnya ke segenap alam semesta
Dipancarkannya pikirannya itu tanpa batas
Ke atas, ke bawah dan kesekeliling
Tanpa rintangan, tanpa benci dan permusuhan.
Selagi berdiri, berjalan atau duduk
Atau berbaring, selagi tiada lelap
Ia tekun mengembangkan kesadaran ini
Yang dikatakan : Berdiam dalam Brahma
Tidak berpegang pada pandangan salah (tentang atta/aku)
Dengan sila dan penglihatan yang sempurna
Hingga bersih dari nafsu indera
Ia tak akan lahir dalam rahim mana pun juga.

 

Hati2 beberapa dari ini bentuk penipuan di Internet

Khun Paen

Dari akhir Ayutthaya legenda, Khun Paen dilahirkan di Suphanburi Propinsi. Tetapi ia dibesarkan di dekat berbatasan Kanchanaburi Province, Thailand.
Ia adalah seorang murid Arjarn Kong, seorang ahli sihir-guru rahib.

Dia belajar dari sihir Arjarn Kong. Khun Paen adalah seorang laki-laki dan sangat menarik untuk wanita. Sehingga dia mempunyai banyak isteri, dan masih banyak wanita jatuh cinta dengan dia.

Khun Paen memiliki pengetahuan magis. Dia menggunakan sihir untuk membuat dirinya kebal dan gaib ke musuh, untuk mengubah melacak gerakan musuh menjadi sukar lapangan, dan untuk mengubah daun dari pohon untuk menjadi wasps sting musuh dll

Karena keterampilannya dalam berkelahi, ia diangkat oleh raja menjadi Khun atau tinggi pejabat militer. Biografi-Nya adalah jauh lebih panjang dan bukan sebuah cerita fiktif puitis oleh penulis awal atau beberapa Ratanakosin periode 180 tahun yang lalu. Bayi-ghostnya anak bernama Guman Thong, ia digunakan untuk membuat magic dia dari bayi mati dalam mati Bua KLee dari rahim. Bua KLee adalah Khun Paen kecil dari istri. Seperti pada legenda membuat Guman Thong adalah yg merawankan hati dan memiliki upacara rumit.

Seperti di atas keajaiban legenda, Khun Paen menjadi model charming man. Banyak Arjarns membuat Khun Paen azimat menjadi terkenal sebagai daya tarik. Selain itu, ini adalah azimat atas kebaikan, dan keselamatan kebal. Orang yang hang Khun Paen azimat akan ditemukan dengan kemenangan kasih.

Namun, yang membuat Khun Paen berbeda dari umum azimat. Karena mereka harus menggunakan banyak bahan sihir dan misterius.

jd ceritanya awalnya itu khunpaen ingin ada spirit yg proteksi dia dan membantu dalam peperangan, akhirnya dia memotong janin yg belum lahir dari rahim istrinya yg meninggal dan membawa ke kuil untuk melakukan ritual gaib.


Khun Pean bungkus tubuh anaknya dengan suci kain dan bakar di atas api sambil membacakan mantra ritual dan mantra "gelap" untuk menciptakan makhluk gaib yang dapat berkomunikasi dengannya.

Khun Pean dibungkus dengan anak dalam batang tubuh suci kain dan bakar di atas api sambil chanting upacara mantras dan gelap incantations untuk menciptakan makhluk gaib dengan siapa ia dapat berkomunikasi.
Peralatan yang diperlukan oleh Khun Pean termasuk tiga lilin, kawul sebuah kotak, sebuah pelindung thread, dan beberapa logam yantras (logam talismans ditulis dengan simbol mistik).

Dia lit lilin yang diletakkan suci dan kayu sebagai tempat tidur untuk janin. Kemudian ia menempatkan Visnu yantra yang kuat di atas kepala, sebuah kerajaan di bawah yantra itu, Visnu yantra yang di tengah, dan Dharani yantra di lapangan. Ia kemudian menetapkan disepuh posting di empat poin kardinal, dan bersama-sama dengan flag yantras, dan ia terikat dengan perlindungan thread sekitar [untuk bertakwa gangguan!. Dia overlaid posting dengan tajuk yang yantra dari Indra rantai dari emas, seperti yang ditentukan untuk acara-acara seperti itu. Ia mengambil kayu dan Mergui charmed lit api bawah janin untuk mengobarkan murni hidup di dalamnya.

Seperti dia Sabtu reciting mantras dia sebagai janin yang terpapar dengan api dan ia tdk sepanjang, sekarang beralih pada depan, sekarang di belakang, sampai, sama seperti fajar broke, ia benar-benar kering. Kemudian, sebagai Khun Phan Al Qur'an yang masih mantras, atas rose Golden Boy dan berbicara, ia siap untuk melakukan penawaran master. Dia dinamakan entitas GuMan Thong.

Hati2 beberapa dari ini bentuk penipuan di Internet

Friday, April 16, 2010

Sangajayana / Sanghacai Phra Kawampati atau Phra kawambo

Sangajayana / Sanghacai merupakan bhante yang dhidup di jaman budha telah di transform menjadi dua bentuk. Yang pertama adalah Phra Kawampati atau Phra kawambodi yang artinya bhante yang tidak mirip dengan Lord budha.

Yang kedua adalah Phra Pit Thawan. Kedua bentuk tersebut sangat populer.
Phra Kawambodi sering disebut Phra Pitta yang artinya bhante yang mengangkat tangan dan menutupi matanya. Phra Kawambodis terbuat berbagai bahan dengan 3 tujuan:

1. Daya tarik dan rejeki, amulet terbuat dari holy-powder.
2. Untuk Proteksi juga rejeki, amulet terbuat dari holy-powder dan dicampur dengan cairan hitam (black lacquer).
3. Untuk kekebalan, amulet terbuat dari berbagai bahan. Dulu, material seperti gading, bahkan kayu juga digunakan untuk membuat amulet.
Phra Pit Thawan mempunyai bentuk yang lebih menarik dengan tangan lebih dari 2, biasanya 3-4 pasang. Masing-masing tangan menutupi organ sensor kita (mata, telinga, hidung dan pikiran).

Phra Pit Thawan merupakan sebutan / nama lama, sekarang lebih dikenal dengan "Phra Pitta Maha UT". Untuk gampangnnya, para amulet user / kolektor menyebutnya "Phra Pitta" saja, yang berlaku untuk Phra Pit Thawan dan Phra Kawambodi .

Pembuatan Pitta maha uts lebih sukar secara ritualnya dibandingkan Phra Kawambodis dan dengan design yang super, Phra Pitta maha Uts selalu ada script untuk kekebalan. Script tersebut bisa berupa Na Ma Pa Ta, Na Mo Bud Dha Ya, A O Ma atau bahkan karakter tunggal seperti Na atau Oo.
Beberapa Phra Pitta maha Uts sangat mahal, harganya lebih dari $20.000 dengan berat tidak lebih dari 50 gram, menjadikannya metal yang paling mahal di dunia.

Setiap amulet thailand harus di bless, tanpa pengecualian yang di lakukan oleh bhante. Jika tidak maka itu tidak akan efektif dan tidak ada bedanya dengan mengambil batu atau metal dari jalanan dan memakainya ke leher.

Hati2 beberapa dari ini bentuk penipuan di Internet

Thursday, April 15, 2010

Thera Sivali

Sivali adalah anak dari Suppavasa (yang belakangan disebut sebagai upasika yang memberikan dana terbaik, aggam panítadáyikánam). Ia harus menderita berada di kandungan selama tujuh tahun oleh ibunya karena kejahatan masa lampaunya. Suppavasa mengalami kesulitan melahirkan selama tujuh hari, dan berpikir dirinya akan mati. Maka ia berpikir untuk memberikan dana kepada Buddha. Ketika Buddha menerima dana dan memberkati Suppavasa, seketika itu juga ia melahirkan.

Pada hari kelahirannya, (karena sudah tujuh tahun di kandungan) Sivali ini sudah memiliki kemampuan anak berumur tujuh tahun. Dengan izin dari Suppavasa, Sariputta menahbiskannya. Ketika ikat rambutnya pertama dipotong, ia mencapai Sotapanna, dan ke dua kali, ia mencapai Sakadagami. Dan kemudian hari ia menyendiri dan menjadi Arahat.

Di kemudian hari, ia disebut oleh Buddha Gotama sebagai yang terbaik dalam menerima dana. Pada perjalanan menuju tempat kediaman Thera Revata, Buddha mengajak Thera Sivali karena jalanannya gersang dan tidak ada manusia. Untuk menguji keberuntungannya, Sivali mengajak lima ratus bhikkhu bersamanya. Sepanjang perjalanan, karena keberadaan Sivali, para Deva menyediakan semua kebutuhan para Bhikkhu.

Pada masa Buddha Vipassi, para perumahtangga bersaing dengan raja untuk memberikan persembahan terbaik. Pada saat itu, semua sudah terkumpul, namun kekurangan madu. Pada waktu itu Sivali memiliki madu yang akan dibeli dengan harga sangat mahal oleh para perumahtangga itu, namun ia tidak mau menjualnya dan ingin ikut serta dalam dana itu. Ia memberikan madu yang cukup bagi 68.000 Bhikkhu Sangha Buddha Vipassi. Itulah salah satu penyebab ia menjadi penerima persembahan yang tidak berkekurangan pada kehidupan terakhirnya.

Penderitaannya di kandungan selama 7 tahun dijelaskan dalam Asatarupa Jataka di mana Ia sebagai seorang pangeran yang kerajaannya diserbu oleh kerajaan Kosala. Ayahnya dibunuh dan ibunya dijadikan istri dari raja baru. Sivali ini berhasil melarikan diri lewat selokan dan kemudian mengancam raja baru untuk menyerahkan kerajaan itu kembali, atau ia akan berperang. Ibunya mengirim surat secara rahasia dan mengatakan tidak perlu berperang, hanya perlu mengepung saja.

Setelah tujuh hari, karena tidak bisa mendapatkan persediaan makanan, air, dan kayu bakar, akhirnya rakyat memotong kepala raja baru, dan kemudian Sivali menjadi raja. Karena kejahatannya itu, maka ia harus menderita selama 7 tahun di dalam kandungan. Ibunya saat itu adalah Suppavasa, dan ayahnya yang dibunuh oleh Raja Kosala itu adalah Bodhisatta Gotama sendiri.

Hati2 beberapa dari ini bentuk penipuan di Internet

Asal mula Makaliporn Makkaliphala


Di mana Makaliporn (Pali: Makkaliphala) atau Buah Fairies berasal? Untuk memahami asal-usul Makaliporn kita harus kembali ke Vessantara Jataka, kisah kelahiran Bodhisatta's final. Legenda mengatakan bahwa waktu yang sangat lama yang lalu, selama era Vipassi Buddha dalam kappa sebelumnya (aeon), ada seorang wanita berbudi luhur bernama Phussati yang menawarkan heartwood harum kayu cendana ke Buddha.

Setelah menawarkan ia membuat keinginan untuk menjadi ibu dari seorang Buddha masa depan. Buddha Vipassi diberkati supaya keinginannya akan terkabul. Setelah menerima berkat, Phussati kemudian dilahirkan kembali sebagai istri dari Indra, Raja surga Tavatimsa. Indra belajar keinginan Phussati sebelumnya, jadi saat umur Deva-nya sudah hampir berakhir, ia diperbolehkan untuk meminta berkah lain.

Phussati meminta 10 berkat dan mereka seharusnya diberikan oleh Indra (terlihat pada mural di atas). Jadi Phussati meninggal dari Tavatimsa dan terlahir kembali sebagai wanita mulia di dunia manusia dengan nama yang sama. Dia juga akan menjadi Raja Ratu Sanjaya. Ketika dia adalah Ratu tapi masih ada keturunan belum, Indra mengundang Bodhisatta untuk mengambil kelahiran di rahim Phussati sebagai anaknya, sesuai dengan keinginan masa lalunya. anak ini tak lain dari Pangeran Vessantara. Ini akan adanya akhir ini bahwa Bodhisatta berhasil membawa nya Dana Parami untuk kesempurnaan.

Indra kemudian menggunakan kekuatan batin untuk membuat pertapaan hutan di Hutan Himavana, tempat mistik tidak jauh dari Himalaya, untuk Pangeran Vessantara dan keluarganya diasingkan ke tinggal di masa depan.

Selanjutnya, Indra dibuat 16 Makaliporn (Makkaliphala) pohon di sekitar pertapaan itu. Mereka adalah pohon ajaib diciptakan untuk 2 tujuan. Yang pertama adalah sebagai teka-teki-Dhamma. Yogi, Gandhabhas (musisi surgawi) dan dewa-dewi lain yang berada di hutan yang belum mengatasi nafsu seksual mereka akan tergoda untuk bercinta dengan Makaliporn indah.

Jika mereka melakukannya, mereka akan tenggelam dalam koma selama 4-bulan, setelah itu mereka akan bangun dan kehilangan semua budidaya mereka dan kekuasaan. Yang kedua adalah untuk melindungi keluarga raja. istri Vessantara Lady Madri akan dapat memilih buah-buahan di hutan tanpa diganggu, sebagai kelompok yang penuh nafsu akan sepenuhnya diserap dengan 16 pohon Makaliporn menarik. Dengan demikian, pohon-pohon Makaliporn tidak mekar musiman, tapi hanya jika Madri pergi memetik buah-buahan. Ketika pohon itu berkembang akan ada banyak tandan buah Makaliporn, dengan 5 gadis di banyak. Dalam 3 hari Makaliporn akan mulai menstruasi, tanda bahwa mereka sudah "dewasa".

Mereka kemudian akan menyanyi dan menari di atas pohon sepanjang hari, menarik yang penuh nafsu kelompok terhadap diri mereka sendiri. Orang-orang ini akan terbang ke ikat Makaliporn dan bersenang-senang bersama mereka, hanya harus dibuat sadar setelah melakukan hubungan seks.

Mereka Yogi yang belum mencapai kekuatan untuk terbang tidak akan bisa melakukannya, tapi mereka bisa menunggu di bawah pohon untuk sejumlah besar Makaliporn matang dan drop-down dalam waktu 4 hari, setelah itu mereka akan dapat menjemput mereka up. Secara keseluruhan dari mekar untuk pematangan dan menjatuhkan Makaliporn berlangsung selama 7 hari. 16 Makaliporn pohon ini bersama dengan pertapaan yang masih ada sampai sekarang di Hutan Himavana, tetapi hanya Yogi yang telah mencapai Jhanas bisa mendapatkan akses ke tempat ini mistis. Mereka akan terus berada di sana sampai ajaran Buddha lenyap dari seluruh dunia.

Selain itu di Hutan Himavana, ada juga jenis lain pohon Makaliporn yang ada di bagian lain dunia, seperti beberapa Monks Hutan telah melihat selama pengembaraan mereka Dhutanga.


Atas dan di bawah kita bisa melihat kering, tetap menyusut 2 Makaliporn disimpan oleh Tuhan saya, LP Jarun Wat Ampawan. Mereka adalah orang asli dari Himavana Hutan, yang diberikan kepadanya oleh anak seorang kepala biara kuil di Lopburi. Kepala biara telah menerima ini Makaliporn 2 sebagai hadiah dari seorang pengembara Yogi yang telah ke hutan. Dia telah meninggal. Selain 2 LP juga melihat-up baru dipetik Makaliporn di Sigiriya Hill, Sri Lanka, disimpan oleh seorang biarawan berjubah hitam yang tinggal di gua di sana.

Dia memberi laporan lengkap tentang bagaimana Makaliporn tampak seperti dalam bukunya, yang saya tidak akan menjelaskan di sini. Tapi yang paling menarik, dia menyebutkan bahwa pada waktu itu sebagai besar sebagai gadis 16 tahun manusia zaman dulu, sangat cantik, telanjang bulat, memiliki rambut panjang pirang dan mata kebiruan besar dengan siswa emas, mungkin tidak seperti orang Barat. Ini juga memiliki tangkai pada bagian atas kepalanya seperti sebuah manggis. Ini adalah bagaimana ia tampak seperti saat masih di pohon.

Tapi rupanya akan mulai membusuk segera setelah jatuh ke bumi, perlahan-lahan menyusut dan mengering sampai semua yang tersisa adalah apa yang kita lihat diatas. 2 ini sangat membusuk Makaliporn sekarang ukuran telapak tangan kami. Anehnya, walaupun kondisinya, Makaliporn masih memiliki organ-organ seperti jantung, usus, paru-paru dan perut dalam tubuh yang keriput, sama seperti manusia. Ini ditemukan oleh seorang dokter dari Rumah Sakit Siriraj, yang meminta izin dari LP untuk beroperasi di salah satu Makaliporn.


Wat Prangmuni di Singburi ini adalah kebalikannya Phra Prom Kuil besar di Kabupaten Promburi. Di atas kita dapat melihat gerbang kuil, yang mengatakan "Wat Phra Prangmuni". Warga panggilan adalah Wat Phra mala atau Wat Prangmuni. Candi ini terkenal karena 2 hal - 1. yang Khmer gaya Chedi yang dikenal sebagai "malapetaka" di Thailand, dan 2. Makkaliporn tersebut. The Makkaliporn disimpan di candi ini awalnya milik tuanku LP Jaran dari Wat Ampawan. Tapi karena terlalu menarik banyak perhatian, mengganggu ketenangan para praktisi Vipassana di Wat Ampawan, pada 1980-an LP memutuskan untuk memilikinya disimpan di Wat Prangmuni sebagai gantinya.

Dan candi ini telah menjadi daya tarik wisata yang kuat sejak itu. Namun beberapa wisatawan asing akan tahu candi ini, itu adalah wisatawan lokal yang pernah begitu terpesona oleh dunia-dari-ini-"makhluk", karena penduduk setempat hanya tahu legenda di belakang mereka.

Sebuah Chedi emas di dekat pintu masuk. Banyak pembaca yang telah menunjukkan ketertarikan besar di Makkaliporn sejak saya menulis artikel "Asal Usul Makkaliporn" tahun lalu, jadi saya akan menulis lebih lanjut tentang rincian dalam artikel ini tindak lanjut. Sekarang, untuk memahami lebih banyak tentang mereka, sekali lagi kita perlu kembali ke Vessantara Jataka. Sebagaimana saya tulis sebelumnya, selama era Vipassi Buddha di kappa sebelumnya (aeon), yang Phussati Lady diberikan keinginannya untuk menjadi ibu dari seorang Buddha masa depan oleh Vipassi Buddha. Dia kemudian dilahirkan kembali sebagai permaisuri Dewa Indra di surga Tavatimsa. Sebelum ia meninggal dari surga itu, dia kembali diberikan 10 berkat oleh Indra, yang yaitu:
1) untuk dilahirkan ke dalam khattiya (prajurit) kasta
2) akan diberkahi dengan mata indah dan cemerlang seperti rusa's
3) untuk terus memiliki nama yang sama di bumi seperti di surga
4) untuk memiliki putra terkenal dengan pengiriman mudah
5) untuk tetap ramping bahkan dengan anak di rahimnya
6) untuk memiliki perusahaan payudara dan indah,
dengan kulit seadil kuncup teratai bahkan setelah menjadi seorang ibu
7) untuk selalu tetap muda dan tidak akan menjadi tua
8) untuk memiliki kulit halus dan lembut
9) untuk diizinkan untuk membebaskan semua tahanan dari penjara
10) untuk bisa mendapatkan apa yang dia ingin untuk di bumi

Chedi terkenal mala emas Bait Suci. Ini adalah sekitar 9 lantai yang tinggi. Jadi Lady Phussati telah dilahirkan kembali di bumi dengan semua berkat-berkat itu, tidak kurang seorang dewi di kalangan perempuan. Apa berkat-berkat harus melakukan dengan Makkaliporn? Banyak - karena kemudian, ketika Indra menggunakan kekuatan batin untuk membentuk pertapaan untuk Pangeran Vessantara bersama dengan 16 pohon Makkaliporn di Hutan Himavana, Phussati adalah model "fisik" dari yang kuno yang Makkaliporn peri cantik buah.

Seperti Phussati yang Makkaliporn telah indah, mata yang cemerlang, ramping angka, perusahaan dan payudara indah dan lembut, berkulit halus. Mereka lahir sebagai anak perempuan usia 16-yr dan akan mati sebagai gadis berusia 16-yr setelah 7 hari, setelah mana mereka akan pergi ke mana dan menyusut. Banyak orang ingin tahu di mana ini adalah Himavana Hutan. Menurut Yogi yang telah ada, letaknya 16 yojana atau 256km jauhnya dari Himalaya.

Namun, hanya Yogi yang telah mencapai kemampuan teleportasi melalui Jhana 4 yang bisa masuk hutan. Hal ini sebenarnya merupakan dimensi terpisah dengan sendirinya, tidak dapat diakses dengan manusia biasa.

Sebagian besar dari kita hidup di dunia 3 dimensi kita seluruh hidup, tidak menyadari .., 4 5, 6 dimensi yang ada di paralel dengan realitas kita. Jika ada orang yang benar-benar bisa menembus ke dalam dimensi-dimensi lain, kemungkinan mereka akan dipecat sebagai gila.

LP Ban Laem kuil di depan Chedi mala. LP Jaran tidak percaya adanya Makkaliporn juga, sampai ia melihat dengan mata sendiri di Sigiriya Hill, Sri Lanka pada tahun 1972. Dalam gua Sinhala biarawan berjubah hitam, LP melihatnya untuk pertama kalinya. The Makaliporn memancarkan aroma yang kuat seperti parfum. Itu adalah ukuran gadis 16-yr manusia tua, sangat indah, dan benar-benar telanjang. Ini hampir menghubungkan alis, mata kebiruan besar dengan siswa emas. Alis mulai dari bagian atas hidung dan keluar melengkung seperti bulan sabit (mirip dengan Buddha Sukhothai Image), dan matanya sebesar telur.

Hal ini juga memiliki hidung yang menonjol. Its kulit sehalus sebagai terpukul "mak" atau Marian plum, dan berambut panjang emas seperti Barat. Di atas kepalanya ada sebuah batang seperti itu dari sebuah manggis, bukti bahwa sebenarnya buah. Leher memiliki 3 cincin-garis dan tidak memiliki tulang kerah. Bahkan tidak memiliki struktur tulang jelas sama sekali. Ketika meremas tubuh Makkaliporn terasa seperti balon. Tangan dan jari yang panjang dan ramping, dengan kuku jari yang panjang, sedikit berbeda dari manusia. Kaki hanya secantik tangan, dan sama-sama halus. Tidak ada tanda-tanda otot-otot sama sekali. Tapi apa yang menakjubkan adalah bahwa meskipun tidak memiliki tulang, itu memiliki organ fisik seperti jantung dan paru-paru dalam tubuhnya seperti manusia biasa.

The Jow Mae Kery Thong suci. Dia adalah dewa perempuan di daerah ini. Mengingat dewi seperti daya tarik dan keindahan Makkaliporn, tidak sulit membayangkan bagaimana Yogi penuh nafsu dan Gandhabhas di hutan akan menjadi gila atas mereka.

Yang lebih menakjubkan bahwa meskipun Makaliporn adalah makhluk non-makhluk yang diciptakan oleh kekuatan psikis, seperti orang maya yang diciptakan oleh pemain sulap, mereka tampaknya memiliki pikiran mereka sendiri. Mereka adalah "diprogram" untuk menyanyi dan menari untuk menarik perhatian, dan bahkan setelah mereka jatuh dari pohon dan mati, mereka masih terus memiliki kemampuan itu.

The Ubosot emas Wat Prangmuni. Setelah melihat dan belajar tentang Makkaliporn dalam gua, LP Jaran membuat keinginan untuk memenuhi Makkaliporn lagi saat ia kembali ke Thailand. Dan sesuai dengan keinginannya, ia datang ke memiliki 2 diantaranya tahun kemudian, yang diberikan kepadanya oleh anak seorang kepala biara kuil di provinsi Lopburi. Pada waktu itu mereka masih besar, tapi secara bertahap mereka menyusut dan melenyap, tidak lagi terlihat seperti manusia. Sekarang mereka tampak seperti peri seukuran telapak tangan.

Di dalam Ubosot tersebut. Ribuan orang telah melihat Makkaliporn sejak mereka berada di Wat Ampawan dan ribuan lainnya ketika mereka pindah ke Wat Prangmuni. Orang-orang terus terpesona dengan mereka, apakah mereka percaya atau tidak.

Di dalam Kuti dari Abbas, yang merupakan murid LP Jaran juga. Dia berbaik hati mengizinkan saya untuk melihat dari dekat Makkaliporn pada layar dalam Kuti nya.

Lemari kaca perumahan 2 Makaliporn alias Nareepon di Thailand. Perhatikan bagaimana hal itu baik dihiasi dengan bunga dan bahkan korban kosmetik!

Sebuah tembakan lebih dekat dari "gadis-gadis 2" dan tempat tidur bagus kecil mereka. LP Jaran disebutkan beberapa kisah-kisah ajaib tentang Makkaliporn ini. Ketika mereka berada di LP yang memiliki banyak orang bicara tentang mereka. Begitu, ada seorang perempuan berbaring pengikut LP, Ibu Sopa, yang mengundang LP ke rumahnya untuk upacara jasa pembuatan. Dia adalah istri dari seorang petugas kepala distrik di propinsi Chantaburi yang belajar meditasi di Wat Ampawan. Namun rumahnya terletak di dekat perbatasan Chantaburi dan provinsi Rayong, ratusan kilometer jauhnya dari Wat Ampawan di Singburi.

Sebuah lukisan pohon Makkaliporn. Kita bisa melihat Gandhabhas dan Lersi Yogi meraih dan berebut Makkaliporn di pohon. Sekarang, Ibu Sopa dan teman-teman dokter tahu kisah Makkaliporn baik dan mereka diminta LP untuk membawa mereka bersama untuk undangan. Mereka ingin menguji Makkaliporn karena mereka tidak bertemu LP bahkan ketika mereka mengunjungi Wat Ampawan. LP adalah memutuskan apakah akan menyetujui permintaan mereka atau tidak.

Sebuah melihat lebih dekat di salah satu Yogi Lersi terbang ke atas pohon dan gembira meraih Makkaliporn. Ada satu ketidakakuratan jelas dalam lukisan ini - yang Makkaliporn memiliki rambut hitam. Namun dalam kenyataannya mereka punya rambut pirang keemasan. LP akhirnya memutuskan untuk membawa Makkaliporn bersama. Dia menempatkan mereka di piring alas, dibungkus dengan kain putih dan menaruhnya di mobil di sampingnya.

Hoax foto Makkaliporn palsu yang dapat dilihat di Kuti. Jadi LP berangkat dari Wat Ampawan di 7am di pagi hari. Pada saat ia naik mobilnya, dia tertidur. keajaiban itu terjadi maka - mobil tiba di provinsi di Rayong 8. Butuh waktu mereka hanya 1 jam untuk mencapai rumah Nyonya Sopa ketika itu biasanya harus memiliki waktu lebih dari 4 jam! The Makkaliporn secara ajaib memperpendek jarak antara Singburi dan provinsi Rayong, yang memungkinkan mereka untuk tiba lebih cepat daripada kemanusiaan mungkin.

Tembakan dari dekat Makkaliporn palsu. Perhatikan bahwa mereka tergantung di ruang. Bagaimana mungkin untuk Makaliporn untuk memanipulasi ruang dan waktu seperti itu? Rasanya seperti cara Buddha menggunakan kekuatan psikis untuk menjaga jarak antara Angulimala dan dirinya selalu sama, meskipun Angulimala berlari setelah dia dan Sang Buddha hanya berjalan dengan lambat. Para perempuan besar Vipassana master Dipa Ma juga mampu melakukan hal yang sama ketika dia menguasai berbagai Iddhis melalui praktik Jhana. Ini, bersama dengan terbang dan teleportasi, adalah bentuk Iddhividha atau transformasi di akan....

Lain ditembak dekat. Lihat bagaimana "plastik" itu. Meskipun Makkaliporn secara resmi mati, namun mereka masih memiliki sifat ajaib tersebut. Jadi LP harus menunggu berjam-jam di rumah Nyonya Sopa sebelum waktunya untuk nyanyian dan makan siang. Ini adalah keajaiban 1.

Sebuah foto dari perhiasan emas dan uang yang penggemar telah menawarkan kepada Makkaliporn. 2 Keajaiban terjadi saat LP diajak oleh Mr Chan Konsitipa ke Wat Si Bunreung di Bangkok. Dia telah belajar tentang Makkaliporn juga dan ingin mengatur upacara jasa pembuatan juga untuk ulang tahunnya. Mr Chan diminta LP untuk membawa Makaliporn dengan dia sebagai anaknya yang kembali dari Amerika ingin melihat mereka. Jadi LP membawa mereka bersama dalam uncang-nya.

Foto lain punggung dari Makkaliporn. Perhatikan bahwa tulang belakang, rusuk dan panggul bisa terlihat jelas ketika mereka semua whithered up. Tetapi ketika mereka dalam kemuliaan asli mereka, tulang-tulang tidak dapat dilihat sama sekali. Ketika tiba di LP Wat Si Bunreung, ada banyak Chao Khun (kepala biarawan tinggi peringkat) yang berkumpul di Kuti kepala biara.

Namun tak ada yang tahu tentang Makkaliporn kecuali Bapak Chan. Setelah beberapa saat, lagu yang manis terdengar keluar dari uncang LP's. Dan satu-satunya orang yang mendengar itu adalah kepala biara Phra Kru Sipariyattikun. Jadi dia bertanya LP apakah ia membawa pemutar kaset dengan dia. Kepala biara menemukan lagu itu sangat bagus dan ingin melihat kaset. LP menjawab ia bukan tipe pendeta yang akan membawa pemutar kaset, tapi kepala biara tidak percaya padanya.

Altar utama 2 lantai di Sala, menyegani Phra Buddha Nimit dari Ayuttaya. LP mencoba untuk menjaga uncang untuk dirinya sendiri meskipun kepala biara berusaha untuk melihat ke dalamnya. Kemudian dia perlu pergi ke toilet dan kepala biara memintanya untuk meninggalkan tas dengan dia sebagai toilet berada jauh.

LP lupa hal tersebut dan menyetujuinya. Jadi, ketika LP pergi ke toilet, kepala biara tidak bisa mengandung curiousity nya lagi dan membuka tas. Para Makkaliporn didedahkan dan segera orang banyak berkumpul di sekitar mereka. Kebanyakan orang tidak melihat mereka sebelumnya, termasuk Khun Chao dari Wat Po, Wat Pamok dan lain-lain. Orang-orang di sana kemudian memanggil orang-orang mereka di rumah untuk datang ke kuil untuk melihat Makkaliporn, dan ini berlangsung sampai larut malam. Tak perlu dikatakan, tidak ada upacara berdoa untuk ulang tahun Mr Chan pada hari itu karena semua orang sedang sibuk mengagumi Makkaliporn.

Lemari menampilkan luar Kuti yang Abbot's. Banyak barang didalamnya tapi tidak untuk chow. Jika pembaca memiliki afinitas untuk pergi ke Wat Prangmuni, Anda bisa lihat sendiri. Banyak orang bertanya kepada saya bagaimana mereka bisa mendapatkan salah satu Makaliporn. Jawaban saya adalah apakah Anda memiliki manfaat untuk mendapatkannya? Mereka sangat langka dan hanya bisa dicapai yogi sangat mengambilnya dari Hutan Himavana. Dan bahkan jika Anda mendapatkan salah satu Makaliporn, dapat Anda menangani perhatian konstan itu menarik? Aku meninggalkan Anda dengan pembaca untuk memikirkan.

Hati2 beberapa dari ini bentuk penipuan di Internet

Tuesday, April 13, 2010

PHRA SOMDEJ WAT RAKHANG KOSTITARARM

Somdet Toh — gelar resminya adalah Somdet Budhacariya (Toh Brahmaransi) — mungkin adalah bhiksu yang paling terkenal dan dicintai khalayak ramai pada abad ke-19 di Thailand. Seorang ahli meditasi yang sering berurusan dengan keluarga kerajaan, dia menjadi terkenal untuk berbagai alasan, tapi kepopulerannya itu berdasarkan pada dua hal: Meskipun gelarnya tinggi, dia sangat mudah ditemui oleh orang-orang dari semua kalangan masyarakat; dan dia membuat jimat yang digosipkan sangat kuat atau ampuh karena kekuatan dan keahlian meditasinya. Dia juga terkenal karena kebijaksanaan dan kecerdasannya. Sejak Somdet Toh meninggal di tahun 1872, sebuah kultus pemujaan telah tumbuh di sekitar waktu itu, dan banyak ahli spiritual di seluruh Thailand mengaku bisa memanggil jiwanya.

Di saat yang sama, banyak legenda juga bermunculan berdasarkan namanya. Di sini hanyalah beberapa dari cerita-cerita favorit saya. Saya tidak bisa memastikan apakah cerita ini akurat atau tidak, tapi mereka semua mengandung pelajaran yang baik, sehingga berharga untuk diceritakan dan diteruskan.

Somdet Toh adalah anak tidak sah dari seorang bangsawan yang kelak menjadi Raja Rama II. Ceritanya seperti ini: Suatu hari di tahun 1787 atau 1788, ketika sang bangsawan sedang berbenah setelah serangan bangsa Burma, dia secara tidak sengaja terpisah dari tentaranya. Ketika ia sedang menunggang kuda, ia sampai di sebuah rumah dengan seorang wanita berumur sekitar 16 tahun berdiri di serambi rumah. Merasa haus, sang bangsawan memintanya mengambilkan air. Wanita itu pergi ke sumur, lalu mengambil semangkuk air — di Thailand, di jaman dulu, mereka biasa minum air langsung dari mangkok — dan meremas sebuah bunga lotus di atas mangkuk, dan menaburkannya di permukaannya. Lalu dia menyerahkan mangkuk itu kepada sang bangsawan. Sang Bangsawan memandangi lama sekali kelopak-kelopak bunga lotus itu lalu minum dengan hati-hati sekali supaya tidak menelan kelopaknya. Setelah itu sambil menyerahkan mangkuk itu kembali kepadanya, ia bertanya, "Apa itu sejenis trik?"
"Bukan," jawab wanita itu. "Aku lihat Anda sangat kehausan hingga Anda mungkin langsung saja menenggak air itu lalu akan tersedak. Jadi saya pikir ini cara yang baik untuk memastikan Anda minum perlahan-lahan."

Bangsawan itu bertanya kepada-nya kemudian, "Apakah orangtuamu ada?" Dia lalu menjemput orang tuanya. Mereka tidak tahu siapa dia, tetapi jelas dia adalah seorang bangsawan, jadi ketika ia mengatakan pada mereka, "Aku ingin mengawini anak perempuanmu," dan orang tua gadis itu segera setuju. Gadis itu lalu bergabung dengan Raja di kamp pasukannya, tetapi ketika perang berakhir, bangsawan berkata kepadanya, "Aku takut aku tidak bisa membawamu ke istana bersamaku, tetapi jika kau punya anak dari hubungan denganku, bawalah tali pinggangku ini.

Berikan anak itu tali pinggang ini dan aku akan tahu bahwa dia adalah anakku. Aku akan merawatnya di masa depan." Jadi sang bangsawan meninggalkan wanita itu dan pulang ke Bangkok.

Seluruh keluarganya segera menyusul ke Bangkok ketika mengetahui bahwa wanita itu hamil. Mereka lalu pindah ke sebuah rumah terapung yang bersender di tepian sungai Chao Phraya di depan sebuah kuil bernama Wat In. Dia melahirkan seorang bayi laki-laki dan diberi nama Toh, yang artinya "besar". Ketika dia sudah cukup besar, dia ditahbiskan sebagai samanera. Beberapa tahun kemudian, ketika bangsawan tadi naik tahta menjadi Raja Rama II, keluarga itu membawa samanera Toh ke Wat Nibbanaram — sekarang namanya Wat Mahathaad, sebuah kuil tepat di seberang jalan dari Istana Utama — dan menunjukkan ikat pinggang tadi ke biksu kepala biara tadi.

Biksu kepala membawa ikat pinggang itu ke Raja dan segera sang Raja berkata, "Betul, itulah anakku." Dia lalu menjadi sponsor ordinasi Samanera Toh menjadi biksu.

Ketika Pangeran Mongkut (Remember Anna and the King?) — Rama IV — ditahbiskan menjadi biksu, Phra (julukan biksu) Toh adalah "kakak seniornya", yang memberikan latihan awal dalam Dhamma dan Vinaya. Segera setelah ditahbiskan, ayah pangeran Mongkut meninggal dunia, dan meskipun secara garis keturunan Pangeran Mongkut adalah penerus tahta berikutnya, tetapi dewan kerajaan memilih salah satu dari saudara-saudara tirinya menjadi Rama III.

Ketika ini terjadi, Phra Toh memutuskan akan lebih bijak untuk meninggalkan Bangkok, jadi dia pergi ke hutan. Pangeran Mongkut menetap sebagai biksu selama 28 tahun, sampai Rama III meninggal. Ketika dia ditawarkan untuk menduduki Tahta, Pangeran itu melepaskan jubah dan menjadi Raja Rama IV.

Segera setelah pemahkotaan, dia mengirimkan perintah untuk menjemput Phra Toh kembali ke Bangkok. Para pejabat pergi masuk hutan, membawa semua biksu yang bisa mereka temui, lalu bertanya, "Inikah biksunya?" "Bukan." "Inikah biksunya?" "Bukan". Sampai berita itu sampai ke telinga Phra Toh, dan dia keluar dari hutan dengan sukarela.
Raja memberikannya gelar Somdet — yang, setelah Supreme Patriarch, adalah gelar tertinggi yang bisa dipegang seorang biksu — dan mengangkatnya sebagai biksu kepala Wat Rakhang, sebuah biara di seberang sungai Istana.

Rama IV dikenang sebagai raja yang bijak dan sangat peduli pada rakyatnya. Somdet Toh secara pribadi memberi julukan kepada sang Raja — dalam sebuah puisi singkat dimana dia menulis sebuah rangkuman sejarah dan meramalkan masa depan dinasti Chakri (Bangkok) — adalah bahwa sang Raja mempertahankan atau menunjukkan sifat Dhamma. Keinginan Raja Rama IV untuk menempatkan Somdet Toh di dekat istana sudah merupakan tanda kebijaksanaannya. Beliau tahu bahwa, sebagai seorang Raja, dia akan kesulitan menemukan orang yang tidak kenal takut maupun yang tidak mementingkan diri sendiri untuk memberikan pendapat yang jujur ketika dia salah, jadi dia menginginkan mantan gurunya di dekatnya dalam

 

Tetapi bahkan sebagai mantan guru sang Raja, Somdet Toh harus melatih kebijaksanaan dan kemampuannya dalam mengkritik sang Raja.

Ada sebuah cerita bahwa suatu hari di awal pemerintahannya, sang Raja — dan ingat bahwa dia sudah menjadi biksu selama 28 tahun — sedang duduk-duduk di depan dermaga di depan Istana asyik minum-minum bersama para pejabat istananya. Jadi Somdet Toh datang dengan perahu kecil, mendayung menyebrangi sungai. Raja, merasa tidak senang, berkata kepadanya, "Aku sudah mengangkatmu jadi Somedet. Kenapa kau tidak hargai pangkatmu? Bagaimana mungkin kau mendayung sendiri perahumu?" Sang Somdet menjawab, "Ketika Raja negeri ini minum-minum di depan umum, Somdet manapun bisa mendayung perahu mereka sendiri." Ia lalu berbalik, dan mendayung ke arah biaranya. Itulah terakhir kalinya Raja minum (minuman keras) di muka umum.

Di lain kesempatan, Rama IV merasa bahwa sejak Thailand sudah diobrak-abrik oleh Burma, banyak adat istiadat Thai yang menghilang, jadi adat istiadat baru harus dikembangkan untuk menggantikan mereka. Jadi ia memutuskan, "Tidakkah ini ide yang bagus kalau kita membuat sebuah parade kapal-kapal setiap akhir masa vassa? Setiap biara di bangkok akan bertanggung jawab menghias sebuah perahu, dan kita akan mengadakan pertandingan/kontes perahu hias terindah." Jadi sebuah dekrit kerajaan dikeluarkan untuk setiap kuil di Bangkok untuk menghias perahu untuk parade ini.

Ketika hari parade tiba, jajaran perahu-perahu yang demikian indah dan berhias mengalir melewati tempat Raja melihat parade itu — kecuali sebuah kayak/kano kecil, membawa seekor monyek yang diikat dan sebuah papan pengumuman di punggungnya. Segera murka sang Raja naik: "Ada yang mempermainkan saya nih." Dia lalu segera memerintahkan pengawalnya mengecek asal-usul perahu itu, biara mana yang bertanggung jawab, dan segera jawabannya adalah Wat Rakhang, biara Somdet Toh.

Mereka mengambil papan pengumuman itu dari monyet itu untuk melihat apa tulisannya. Tertulis, "Berani kehilangan muka untuk menyelamatkan selembar kain," yang berima indah dalam bahasa Thai, tapi tetap maknanya sama sekali tak bisa dimengerti bahkan dalam bahasa aslinya.

Beberapa hari kemudian, sang Raja mengundang Somdet Toh datang ke Istana untuk makan dan berceramah, yang setelahnya ia bertanya, "Misalkan seseorang mensponsori sebuah perahu dengan sebuah papan seperti ini terikat di punggung seekor monyet. Menurutmu apa artinya?" dan sang Somdet berkata, "oh, itu artinya bahwa biksu-biksu yang tidak memiliki harta benda milik mereka sendiri untuk menghias perahu. Dan tentu saja tidak sepantasnya bagi mereka meminta sumbangan dari umat awam untuk menghias perahu, jadi satu-satunya jalan bagi mereka adalah menggadaikan jubah mereka. Jadi mereka rela kehilangan muka demi menyelamatkan jubah mereka."
Itulah terakhir kalinya parade serupa pernah diadakan.

Ada cerita lain juga mengenai sebuah acara pemakaman di Istana. Upacara pemakaman di istana bisa berlangsung terus selama 100 harian sebelum kremasi. Setiap malam mereka mengundang 4 orang biksu untuk membacakan sutta. Biksu-biksu yang terkenal, yang bergelar tinggi akan mulai duluan di awal 100 hari dan di akhir periode akan jatuh ke biksu-biksu junior. Satu malam menjelang akhir dari pemakaman ini, mereka mengundang empat orang biksu muda yang belum pernah sekalipun melihat Raja sebelumnya. Di zaman itu kalau Raja berkata, "Penggal kepala!" itu berarti benar-benar kepala dipenggal. Jadi mereka sangat gugup saat membacakan sutta. Bagaimanapun juga, sang Raja sudah jadi biksu selama 28 tahun, jadi dia pasti tahu kalau mereka salah melafal walaupun sedikit saja.

Akhirnya raja memasuki ruangan, diikuti para pengikutnya. Rama IV memiliki wajah yang tegas dan wibawa yang patut ditakuti, dan segera ketika para biksu tadi melihatnya mereka langsung melarikan diri dan sembunyi di balik tirai. Hal ini membuat sang Raja marah dan berkata "Apa-apaan ini? Apakah saya ini monster? Seekor Raksasa? Apa ini? Segera tanggalkan jubah mereka!" Jadi titah sang raja telah ditulis dan dikirim ke seberang sungai kepada Somdet Toh untuk penanggalan jubah dari beberapa biksu muda itu. Somdet Toh yang duduk di depan meja tulis tepatnya berada di samping altar kecil yang dimana adanya dupa kecil yang menyala. Melihat surat titah kerajaan itu lalu menaruhnya di atas dupa yang akhirnya mengakibatkan 3 lubang bekas terbakar oleh dupa. Surat itu dikirimkan kembali ke seberang sungai yaitu ke kerajaan.

Sang Raja tentu saja sudah pernah mempelajari doktrin buddhist, dan Sang Raja mengerti apa maksudnya 3 bekas lubang api itu : Api nafsu, Api Kemarahan, Api delusi/khayalan..serta pesan dari somdet ialah "keluarkan mereka." hingga akhirnya biksu-biksu muda itu tidak jadi ditanggalkan jubahnya. beginilah cara untuk mengkritik sang raja.

Suatu kali, bagaimanapun Somdet toh tidak selalu mulus dalam mengkritik Sang Raja...Ada suatu tradisi yang tertulis di Apadanas(?)..bahwa adanya kelompok pengikut Buddha yaitu kelompok Sakya, dimana para putra dan putri dari Raja yang bersangkutan harus meninggalkan negeri mereka dan bermukin di Kapilavastu, daerah ini dulunya sebagai tempat tinggal sang Budda. Setelah membangun kota dan sebagai tempat tinggalnya, bagi mereka yang mencari calon suami dan istri di daerah itu melihat bahwa tidak adanya darah bangsawan yang patut untuk dinikahi, jadi akhirnya abang menikahi adik perempuannya.

Nah itulah tradisi yang tertulis dalam Apadanas yang menjelaskan nama Sakya itu sebagai "kelompok milik sendiri"

Suatu hari, Somdet Toh membicarakan topik ini di kerajaan, setelah berdikusi akan hal ini, dia melanjutkan, "Sejak saat itu sudah menjadi tradisi bagi kaum bangsawan. Paman memacari kemenakan perempuannya, sepupu memacari sepupu..." Pada waktu itu, kebetulan Ratu dari Rama IV adalah kemenakannya sendiri, jadi Sang Raja menjadi marah.
"Kamu nggak boleh tinggal di negeri ini!" Kata Sang Raja. Jadi Somdet Toh diasingkan ke luar Thailand. Tapi pada waktu itu ada peraturan pemerintah mengenai kependudukan yang dimana kekuasaan negara tidak bisa mencakup daerah Sima(?), termasuk daerah di sekitar aula/ruangan pentahbisan. contohnya, jika ada maling yang lari masuk ke sima, para petugas keamanan harus mendapatkan izin dari kepala biara sebelum mereka masuk ke areal sima untuk mengejar maling itu. Jadi Somdet balik ke Wat Rakhang dan pindah masuk ke areal pentahbisan. Selama 3 bulan Somdet tidak menapakkan kaki di luar sima.

Sementara itu, sang raja lupa akan perintah pengasingan somdet, dan suau hari sang raja berkata, "udah lama Somdet Toh gak datang ngomong2, mari kita undang dia." Jadi undanganpun dikirimkan ke biara seberang sungai, tapi balasannya mengatakan "Saya tidak boleh menginjakkan kaki di negeri ini, ingat?" "Oh" Raja berkata, "Saya lupa." lalu sang raja mencabut perintah pengasingan diri sang Somdet.
Jadi bukanlah hal yang mudah untuk mengkritik raja-raja pada masa itu.

Bahkan jika Anda adalah guru pribadinya, Anda harus berhati-hati.
Tentu saja, tidak semua komentar Somdet Toh tentang raja itu kritis. Contohnya, rasa hormatnya terhadap sang raja-lah yang menginspirasikan Somdet untuk meninggalkan hutan untuk membantu Sang Raja.
berkata,

 

Pada waktu lain dan acara yang sama di kerajaan, Somdet Toh memulai pemberkatan penutup dengan gatha yang biasanya :
Yatha varivaha pura
Paripurenti sagaram
Evameva ito dinnam
Petanam upakappati...
Seperti sungai penuh dengan air memenuhi seluruh lautan,

Maka dari itu semuanya untuk kebaikan seluruh makhluk alam peta...
Pada saat Somdet sampai pada gatha ini, Sang Raja dengan tidak biasanya memutus etiket Buddhist dan berkata, "mengapa kamu memberikan semua jasa pahala-nya kepada makhluk alam peta? apa dasarnya mereka pantas menerima itu?"

Somdet Toh, tanpa kehilangan irama langsung membalikkan kembali gatha dan merubah baris terakhir:
Evameva ito dinnam
Sabbam rañño upakappati...

Maka dari itu semuanya diberikan untuk kebaikan Sang Raja...
Sang Raja yang fasih juga dalam bahasa Pali, merasa sangat gembira atas kemampuan Somdet untuk berpikir cepat.

Ada banyak lagi cerita Somdet Toh yang tidak berhubungan dengan Raja. Ajahn Fuang, guru saya, terutama suka untuk bercerita tentang kisah Somdet Toh menghadapi orang awam yang berkedudukan tinggi yang mengunjungi biara dan membuang waktu bikhu dalam percakapan yang tidak berguna.

Somdet Toh memakan makanannya di paviliun kecil tepat berada di depan tempat tinggalnya. Jika seekor anjing liar lewat, Somdet akan melempar sedikit makanan pada si anjing - sehingga akhirnya banyak sekali anjing2 sering datang dan duduk di sekitar-nya pada waktu jam makan-nya, untuk menanti makanan. Artinya jika ada orang awam yang berkedudukan tinggi ingin datang memberi penghormatan dan berdialog dengan-nya pada saat Somdet makan, mereka juga harus memberi hormat namaskara pada anjing-anjing itu juga. Alhasil, hanya orang2 tidak punya harga diri yang bernamaskara pada anjing demi ingin berdialog dengan Somdet pada waktu jam makan-nya.

Kisah lainnya adalah mengenai umat awam yang kaya raya yang bermaksud untuk mengundang Somdet Toh ke rumahnya untuk menerima persembahan makanan dan percakapan Dhamma. Acara seperti ini memang sudah biasa di masyarakat, dimana sang donor mengundang teman-temannya serta keluarganya untuk ikut berartisipasi dalam persembahan makanan dan untuk mendengar Dhamma. Jadi umat ini mengirimkan pelayannya untuk memberitakan undangan tersebut kepada Somdet Toh yang dimana dia ingin Somdet Toh membicarakan topik tingkat tinggi, yaitu empat kesunyataan mulia.

Tapi pada waktu itu si pelayan tidak begitu akrab dengan tema "empat kesunyataan mulia: - yang bahasa Thai-nya "Arisayat". Bagi si pelayan terdengar seperti "Naksat" atau Zodiak..Jadi dia mengatakan kepada Somdet Toh bahwa tuannya ingin mendengar Dhamma tentang zodiak. Sang somdet tahu bahwa hal ini pasti salah pengertian, tetapi kesalahan dari si pelayan ini menggelitik-nya, dan akhirnya Somdet memutuskan untuk menggunakan kesempatan ini sebagai titik Dhamma - serta sekaligus bersenang-senang pada waktu yang sama.

Pada hari saat dialog Dhamma tiba, Somdet pergi ke rumah si umat, dan setelah makan Somdet Toh duduk di tempat duduk pengkotbah dan memulai dialog dengan mengatakan, "Hari ini tuan rumah kita yang terpandang telah mengundang saya untuk pembabaran Dhamma tentang zodiak." Lalu Somdet melanjutkan dengan menerangkan ke-12 zodiak secara terperinci.

Sementara itu, si majikan sudah mengarahkan pisau kepada si pelayan. Setelah selesai menerangkan tentang zodiak, lalu Somdet menambahkan, "Tapi, zodiak apapun seseorang itu dilahirkan, mereka juga adalah sebagai pribadi yang mengalami dukha." Dengan itu, Somdet telah memutar topik menjadi 4 kesunyataan mulia - yang hal ini mungkin menyelamatkan si pelayan.

Pada lain waktu, beberapa misioner kristen datang untuk mengunjungi Somdet. Salah satu dari strategi si misioner pada waktu itu adalah menunjukkan tingginya ilmu mereka akan pengetahuan untuk mempesona para penyembah berhala, memenangkan rasa hormat mereka, dan mungkin akan membuat orang2 untuk pindah agama. Dengan dekatnya Somdet Toh kepada Sang Raja, mungkin mereka berpikir bahwa bila mereka bisa membuat Somdet pindah agama, maka Raja-pun akan pindah agama. Jadi mereka para misioner itu mendiskusikan beberapa topik pengetahuan dengan Somdet yang akhirnya tiba pada fakta bahwa mereka bisa membuktikan bahwa bumi itu bulat. Kepada Somdet, tanpa rasa terkejut..berkata, "Saya tahu, dan bahkan saya bisa menunjukkan pada kalian di mana pusat bumi ini." Hal ini mengejutkan para misioner itu, jadi mereka meminta Somdet untuk menunjukkannya pada mereka. Somdet berdiri, mengambil tongkatnya, keluar dari gubuknya, dan menancapkan tongkatnya dengan kuat di tanah, serta berkata, "Di sini."
"Tapi bagaimana mungkin?" Mereka bertanya kepada Somdet.

Somdet menjawab, "Jika bumi itu bulat, berarti berbentuk seperti bola kan? dan setiap titik di permukaan bola itu dapat sebagai titik pusat dari titik lainnya pada permukaan."
Setelah itu para misioner-misioner meninggalkannya.

Pada hari terakhir dari Retreat musim hujan di tahun 1868, Raja Rama IV meninggal dunia. Anak sulungnya, Pangeran Chulalongkorn, yang mana sekarang sebagai Rama V baru saja berumur 15 tahun. Sebagai hasilnya, jalannya system pemerintahan diserahkan pada tangan seorang pengawas/bupati bernama Chao Phraya Sri Suriyawong (Chuang Bunnag) - yang dimana beliau memegang pemerintahan ini sampai Rama V beranjak dewasa. (Namun pada masa berikutnya, Hidup Rama V dikabarkan mengalami kegelisahan dan ketakutan akan pembunuhan terhadap dirinya).

Setelah ke-kabupatenan dilembagakan, Somdet Toh yang sudah berumur 80 tahun, muncul di istana sang bupati pada tengah hari yang cerah, sambil membawa obor yang menyala serta dipegang tinggi-tinggi dengan satu tangan, dan memegang Text Dhamma yang panjang yang tertulis pada daun palem yang sempit memanjang serta berposisi di belakang pada tangan yang satu lagi.

Setelah Somdet berjalan pada ruangan kerajaan dengan cara seperti itu, berita-pun sampai ke sang bupati. Bupati dengan hormat mendekati Somdet Toh dan mempersilahkan-nya untuk duduk, setelah itu Somdet meyakinkan bupati untuk mengerti pesan-pesan sang Somdet untuk calon Raja: Dia tidak akan mengizinkann semua keputusan yang diambil-nya dikuasai oleh kegelapan dari kekotoran, dan dia harus memegang teguh kepada Dhamma sebagai kemudi untuk mengendalikan kapal negara.
Empat tahun kemudian, Somdet Toh meninggal dunia.

Hati2 beberapa dari ini bentuk penipuan di Internet

Thursday, April 8, 2010

Cerita Legenda Jatukarm Ramathep


Pada sekitar tahun 1700 ketika masiha zaman sulit dan peperangan. Tinggallah seorang raja di Siam Tengah.. dan memilki dua orang Pangeran, yang lebih tua bernama Jatukam dan yang lain bernama Ramathep. Setelah bertahun-tahun perang, Raja akhirnya berhasil menaklukkan dan mengamankan Sri Lanka menjadi bagian dari Kerajaan-Nya.

Sebelum Raja memulai perjalanan untuk menaklukkan tanah yang baru,. Raja membangun candi ini di tanah suci dan dengan kerja keras, kemudian mendirikan sebuah kota yang kaya dan kuat. Mereka membawa harapan baru dan perdamaian kepada semua orang.
untuk mengingat jasa besar yang dilakukan oleh kedua raja lalu tempat ini diberi nama “Nakhon Si Thammarat”. yang terletak di Thailand Selatan.

Sementara relik kedua raja disebut Wat Mahathat .
Setelah beberapa Abad, banyak orang melakukan perjalanan ke Wat Mahathat kemudian menemukan relik yang dikubur oleh raja yakni sebuah batu ukiran dan relik dikuburkan di Wat. Cerita-cerita dari dua raja ditemukan pada ukiran. Ditulisan menceritakan sepak terjang dua raja yang telah banyak melakukan perbuatan-perbuatan besar.

Dan yang paling besar dan terkenal adalah dengan Erecting Bait Relik.
Dan mereka berjanji untuk menjaga relik sepanjang hidup mereka
Kemudian, dua orang digabungkan menjadi satu bernama Tao Jatukam Ramathep. Ketika berdoa kepadanya. Tao Jatukam Ramathep menjadi salah satu yang paling populer dan dihormati diantara dewa-dewa di Thailand Selatan. Dalam kuno hari, Hal ini diyakini bahwa mereka yang berdoa kepada Tao Jatukam Ramathep akan diberkati dengan mendapat keberuntungan dalam semua segala hal/aspek, baik itu dalam pekerjaan sehari-hari.

Ada yg mengatakan Jatukam sebenarnya adalah Raja dr kerajaan Sriwijaya (Diperkirakan Prabu Balaputradewa), yg dianggap titisan Shree Rama dr epos Ramayana (Rama-Shinta). Hal ini tertulis dlm Babat tanah jawa juga.
Menurut sejarawan, tua Nakhon Si Thammarat adalah sebagian Sriwijaya, kerajaan pantai yang memasukkan Sumatera, Semenanjung Malayu, Indocina daratan dan Borneo barat yang marak dari sekitar 500 sm sampai yang terlambat abad ke 11.

Sejarah juga menyebutkan sekte Vajrayana Mahayana Buddhism berada di Sriwijaya, dan bodhisattva. disebutkan juga Raja Chandrabhanu, yang dikenal sebagai Pangpagan, adalah seorang prajurit yang berkulit hitam pada masa itu prajurit tersebut dengan gagah berani melawan kejahatan. Ini penyebab mengapa azimat Pangpagan dan Rahu (dewata hitam yang mengilhami teror) dimasukkan di kelompok jimat Jatukam itu. secara Klasik Jatukam digambarkan dan didudukkan, dengan kaki kanannya sedikit diangkat,dia memmilki ular yang berkepala tujuh.

Dapat dilihat, Pangpagan yang Hitam diperlihatkan duduk bersila dengan tangannya diangkat untuk menutupi matanya, dan diapit oleh ular. Lambang lain di atas jimat Jatukam termasuk matahari dan bulan.
Matahari dan bulan melambangkan siklus alam dan lambang 12 tahun tua Nakhon Si Thammarat’s menduduki 12 kota. Tidak ada satupun manusia yang setuju. Tetapi, sebenarnya Jatukam deity’s adalah Chandrabhanu bodhisattava.

Beberapa penduduk setempat percaya bahwa Jatukam adalah wali Maha That (sisa Lord Buddha) di Nakhon Si Thammarat’s Maha That Temple, membangun sekitar 854 CE.

Semementara Menurut kepercayaan kuno, Maha That adalah pusat keramat baik kota maupun alam semesta. Dua patung dewata, dengan nama mengukir di dasar mereka, berada di pintu masuk Maha pagoda itu.
Tao Katukam di sebelah barat pintu dan Tao Ramathep di sebelah timur pintu.

Sedangkan bagian depan Jatukam menghiasi puncak tiang kota baru. Beberapa penduduk asli Nakhon Si Thammarat mengatakan dewata Jatukam adalah Tao Katukam dan Tao Ramathep, mungkin pada masa itu kepercayaan orang di agama Hindu pada DEWA Brahma dan Vishnu. Tetapi untuk Jatukam sendiri.

Dalam pembuatan jatukam sejarah menjadi begitu penting untuk menarik minat orang pada jatukam. Dan setelah terbentu kemudian Jatukam tersebut di blessing
Sementara...Kebudayaan Thailand, Khususnya Spiritualismnya banyak mengadopsi dr India dan Chinese (khususnya Hinduisme, dan Buddhisme Tradisi Mahayana & Theravada), tetapi ada beberapa Thai Deities yg tdk termasuk dalam semua culture tsb, termasuk Dewa Jatukam.

Share Katha Jatukham dari Wat Kor hong

Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma SamBuddhassa ( 3x )
Orng Por Jatukarm, Neur Far-Ba-Done,
Neur Krung Sorng Talay, Por Orng-Satu-La,
Chow-Krung-Thamma-Sork, Rama-Thep-Kae-Ri-Yong-Ghai,
Yoo Koo Far-Tai, Omm-Tani-Ran-Da-Gan
Jatu-Naka-Rama-Thep-Thep-Tai
Barami Pok Kae La, Neur-Far-Neur-Din-Satu-Rama ( 3x )

Hati2 beberapa dari ini bentuk penipuan di Internet

Polemik Brahmarûpa ( Dewa Brahma Catur Muka )

Oleh : Y.M. Maha Dhammadhiro Thera

Brahmarûpa atau bentuk Brahma banyak dikenal belakangan ini dengan sebutan Dewa Empat Muka. Sebagian masyarakat suku Tiong Hoa menyebutnya Sie Mien Fuo (Buddha empat muka) atau Sie Mien Sen (Sie Bin Sin, Dewa empat muka). Sesungguhnya, apakah Brahma itu? Artikel di bawah ini ditampilkan untuk membantu mengkaji tentang keberadaan Brahma melalui pandangan beberapa sudut.

Arti Kata Brahma
Kata Brahma menurut konteks katanya berarti ‘besar’; makhluk yang berbadan besar disebut Brahma (mahantasarîratâya brahma, akar kata Braha = besar). Menurut pengertiannya, brahma berarti pembesar atau penguasa tiga alam, yakni; alam manusia, alam dewa dan alam brahma. Istilah Brahma memiliki banyak pengertian lain disesuai dengan ciri dan fungsinya, seperti: kakek (pitâmaha), bapak, bapak makhluk alam (pitu), penguasa tiga alam (lokesa), makhluk yang lebih luhur di antara para dewa (surajettha), pemelihara makhluk hidup (pajâpati), dsb.

Brahma dalam Tradisi Brâhmana/Hindu
Brahma, sebagaimana yang kita kenali, adalah salah satu dari tiga dewa utama dalam agama Hindu. Pengikut Hindu mempercayai dewa ini sebagai dewa pencipta, dewa yang kekal, yang lebih tinggi dari dewa lainnya. Apabila berpasangan dengan dua dewa yang lainnya, yakni: Visnu dan Siva, ketiganya ini dikenal dengan julukan Trimurti. Istilah Trimurti ini muncul sekitar dua ratus tahun setelah Buddhaparinibbâna, yakni saat kaum Brâhmana menamakan ajarannya sebagai ajaran Hindu atau Jaman Hindu.
Sebenarnya, istilah Brahma ini telah muncul lama sebelum kemunculan jaman Hindu; yakni muncul pada Jaman Veda. Jaman Veda adalah jaman kedua dari empat jaman dalam agama Brâhmana, yakni: jaman Ariyaka, jaman Veda, jaman Brâhmanaka, dan jaman Upanisada (Hindu). Teori pembedaan masyarakat berdasarkan warna kulitnya atau yang dinamakan ‘kasta’ muncul di jaman Veda ini. Dan, Brahma pada masa ini diyakini sebagai sumber dari keempat kelompok kasta di atas. Rinciannya secara berturut-turut adalah, kasta Brâhmana muncul dari mulut Brahma, kasta Ksatriya muncul dari lengan Brahma, kasta Vaisa muncul dari paha Brahma dan kasta Sudra muncul dari kaki Brahma. Kemudian pada jaman Brâhmanaka, Brahma dijadikan sebagai objek pujaan tertinggi dengan menyisihkan kebesaran dewa Indra yang sebelumnya telah menjadi pujaan tertinggi sejak awal mula berdirinya agama ini, yakni sejak jaman Ariyaka dan awal jaman Veda. Brahma dianggap sebagai dewa pencipta menggantikan dewa Indra. Dan kaum Brâhmana menyatakan diri bahwa kaum mereka adalah keturunan Brahma.

Terhitung sejak jaman Ariyaka, yakni jaman awal kaum Ariyaka menduduki wilayah India sekarang, kepercayaan terhadap dewa-dewa di jaman Brâhmanaka ini kian lama kian bertambah kompleks dan timpang tindih asal-usul maupun tugasnya. Satu sosok nama dewa bisa berasal dari bermacam-macam sumber kemunculannya dan berlainan kwalitas dan kekuasaannya. Dewa-dewa yang dulunya berderajat tinggi pada satu jaman menjadi merosot sebagai dewa lumrahan di jaman lainnya. Sebaliknya, yang dulu berderajat rendah naik menjadi berderajat tinggi yang berperanan penting dalam mengatur kelangsungan alam semesta, termasuk alam manusia. Brahma misalnya, dalam kitab Manûdharmasastra dikatakan muncul dari telor emas dan sebagai pencipta dewa Visnu. Tetapi dalam kitab Varâhapurâna disebutkan bahwa Brahma muncul dari teratai yang muncul dari pusar dewa Visnu. Dalam kitab Padmapurâna dikatakan, dewa Visnu ingin menciptakan alam, kemudian ia membagi diri dengan menciptakan Brahma dari pundak kanannya, menciptakan dirinya sendiri dari pundak kirinya dan menciptakan dewa Siva dari badannya. Kecuali di atas, masih banyak dewa-dewa objek pujaan lain yang kian lama kian tumpang tindih keberadaannya. Ketimpang tindihan sosok dewa berikut kwalitas dan kekuasaannya ini salah satu sebabnya adalah karena masing-masing kelompok masyarakat pemuja dewa tertentu berusaha mengorbitkan dewanya masing-masing. Dan terhadap dewa yang bukan pujaan mereka, keberadaannya akan dikesampingkan, bahkan didiskreditkan.

Sehingga, setelah jaman Brâhmanaka yang bertahan selama beberapa ratus tahun di mana dewa-dewa agama Brâhmana pada masa itu berada pada titik puncak ketidak-jelasan dan sebagai salah satu subjek pertikaian antar kepercayaan, muncullah jaman Hindu yang berhasrat mengatur kembali, baik segi ajaran maupun objek-objek pujaan mereka. Di jaman Hindu, kaum Brâhmana berhasil meringkas bentuk-bentuk dewa yang beraneka macam itu dalam satu bentuk berupa Trimurti. Terbit satu kesepakatan bahwa, Brahma adalah sosok pencipta, Visnu adalah sosok pemelihara, dan Siva adalah sosok penghancur.

Mengapa dewa Brahma memiliki empat muka? Pertanyaan sejenis ini banyak terlontar. Keberadaan Brahma dengan empat muka ini muncul dari kalangan kaum Brâhmana sendiri. Asal usul dewa Brahma bukanlah memiliki empat muka, melainkan lima muka. Muka yang kelima terletak di ubun-ubun kepala. Namun muka yang kelima ini sirna karena adanya satu peristiwa. Ceritanya adalah sebagai berikut. Dulu, dewa Brahma hanya bermuka satu, seperti dewa-dewa lainnya. Ia mempunyai seorang shakti (dewi) bernama dewi Sarasvati, sebagai pendampingnya. Saat sang dewi, yang adalah sesosok dewi bertubuh indah, sedang memberikan pelayanan di dekat sang Brahma, sekonyong-konyong timbul sorot mata berbaur nafsu birahi tertampak di wajah sang Brahma. Karena tekanan perasaan gelisah atas pandangan itu, sang dewi menghindar sorotan mata sang Brahma dengan berpindah di sebelah kanan Brahma. Sang Brahma, atas dorongan nafsu birahinya untuk bisa mengagumi keindahan tubuh sang dewi, menciptakan muka di sisi kanan kepalanya. Sang dewi yang pemalu itu pindah lagi ke sebelah kirinya. Sang Brahma tidak pantang menyerah. Dia ciptakan muka di sisi kiri kepalanya mengikuti arah sang dewi. Sang dewi pindah lagi ke belakang dengan harapan bisa lepas dari sorot mata Brahma.

Namun, sang Brahma tidak putus asa. Ia menciptakan muka di sisi belakang kepalanya. Karena merasa tidak ada tempat nyaman lagi baginya, sang dewi pun berdiam di angkasa. Di pihak lain, atas dorongan nafsu yang tiada tanda reda, sang Brahma menciptakan muka kelimanya di bidang atas kepalanya. Akhirnya, sang dewi yang tidak tahu apa yang harus diberbuat, pergi melaporkan hal tersebut kepada dewa Siva (versi lain mengatakan kepada dewa Visnu). Dewa Siva membantu mengatasi masalah sang dewi dengan menebas muka yang berada di bidang atas kepala. Brahma kehilangan muka atasnya. Dan mulai dari situlah Brahma menjadi bermuka empat. Cerita ini tampak seperti dongeng seribu satu malam. Tetapi inilah yang tercantum dalam kitab milik kaum Brâhmana tentang asal mula Brahma empat muka atau Sie Mien Sen dalam bahasa Mandarinnya.

Brahma dalam Tradisi Buddhis

Tidak seperti dalam tradisi Brâhmana/Hindu yang menempatkan Brahma di alam surgawi dan masih berlumur gairah nafsu (Kâmâvacarabhava), Brahma dalam ajaran Buddha diletakkan di alam tersendiri, yakni alam Brahma, yang bebas nafsu gairah (Rûpârûpabhava). Dalam kitab-kitab agama Buddha, istilah Brahma sering disebut di sana. Artinya, agama Buddha mengakui keberadaan Brahma. Namun, istilah brahma dalam kitab agama Buddha itu memiliki pengertian yang berbeda dari kepercayaan kaum Brâhmana. Batasan pengertian brahma diubah sedemikian rupa hingga sesuai dengan doktrin agama Buddha. Perlu diketahui juga, bahwa Sang Buddha banyak memberikan makna baru atas kata-kata yang sebelumnya telah dipakai di jaman itu, seperti misalnya kata arahanta, brâhmana, mokkha, bhagavantu, dsb. Pengubahan ini utamanya ditujukan agar para pendengar ajaran Beliau memiliki pengertian baik dan benar.
Sebuah kata atau nama bisa mengandung makna lebih dari satu arti. Tiap-tiap makna berperan dalam memahami suatu ucapan atau ajaran. Karena itu, pemilahan makna kata dari makna-makna adalah satu tugas yang amat penting untuk mencapai maksud sebenarnya si pengucap. Pengertian lebih penting daripada nama itu nama yang menjulukinya sendiri. Karena, nama adalah sekadar julukan. Sedangkan pengertian adalah arahan dari suatu nama diucapkan. Untuk kata ‘brahma’ misalnya, umat Buddha tidak diarahkan untuk memahaminya sebagai pusat dari makhluk alam semesta, sosok makhluk yang kekal, yang menentukan nasib setiap insan (yang sebenarnya juga termasuk nasib hewan dan makhluk lain), atau sosok makhluk yang secara langsung memberi anugerah sekaligus kutukan terhadap makhluk lain. ‘Brahma’ dalam pengertian sebagai sesosok makhluk, adalah makhluk-makhluk yang telah mengembangkan kebajikan besar sehingga mampu menempati alam brahma. Brahma dalam agama Buddha bukanlah mewaliki satu makhluk saja, melainkan mewakili sekelompok makhluk dengan berbagai macam tingkatannya. Alam Brahma memiliki banyak tingkat. Tiap tingkat memiliki ciri khas, kemampuan, dan batas usia penghuninya. Dewa Brahma, meskipun berusia amat lama, juga akan habis masa usianya (meninggal dari alamnya). Ia pun akan melanjutkan kehidupannya di alam-alam lain seperti halnya makhluk manusia dan binatang. Dan, semasih belum mencapai tingkat-tingkat kesucian, mereka semua tak terlepaskan dari alam samsara.

Kembali pada pengertian Brahma, Sang Buddha sendiri dalam sabdanya, pernah menyebut diri beliau sebagai Brahma, “Brahmâti kho bhikkhave tathâgatassetam adhivacanam”1 Para bhikkhu, kata brahma ini merupakan nama Tathâgata. Brahma juga dipakai untuk pengertian ‘orangtua’, seperti dalam Buddhavacana ini, “Brahmâti mâtâpitaro pubbâcariyâti vuccare”2 Ibu dan ayah pemelihara anak, disebut brahma dan disebut guru awal. Brahma berarti ‘luhur’, “Brahmacakkam pavatteti”3 Memutar roda nan luhur. “… setthatthena brahmam sabbaññutaññânam …”4 Pengetahuan si pengetahu segala yang merupakan ‘brahma’ dalam pengertian ‘luhur’. Brahma mengacu pada ‘empat keberadaan luhur’ (mettâ, karunâ, muditâ, upekkhâ), “Brahmam, bhikkhave … muditâya cetovimuttiyâ.”5 Duhai para bhikkhu, di kala itu para bhikkhu berada dalam kediaman yang luhur yakni tempat berdiam dalam muditâ, kebebasan pikiran. Keberadaan Brahma sebagai sosok penentu nasib, pemberi rejeki, kesehatan, keselamatan, dsb. tidak dikenal dalam pengertian Buddhis.

Perbandingan Brahma menurut Brâhmana dan Buddhis
Brahma dalam Ajaran Brâhmana:
Dikenal dalam ajaran para brâhmana sejak Jaman Veda.
Sebagai sang pencipta dan bersifat kekal. Pada jaman Veda dianggap merupakan bagian dari segala sesuatu.
Dalam cirinya sebagai paramâtman, dianggap sebagai sumber semua jiwa (âtman).

Pada Jaman Brâhmanaka, Brahma bersifat nonperson dan tak berjenis kelamin.

Masa berikutnya, bentuk Brahma lebih berbentuk person menyerupai manusia dengan memiliki empat muka.

Belakangan, Brahma mempunyai istri atau Shakti bernama Sarasvati (dewi kebijaksanaan) dan mempunyai angsa sebagai wahananya.

Dilengkapi dengan Brahmavihâradharma.
Brahma dalam Ajaran Buddha
Bukan makhluk kekal, bukan pencipta, bukan penentu garis hidup makhluk lain.
Berasal dari makhluk yang telah mengembangkan batin hingga di tingkat rûpajjhâna dan arûpajjhâna. Kehidupannya dibatasi oleh waktu.
Bersifat person, bermuka satu dan tidak memiliki istri atau Shakti.
Dilengkapi dengan Brahmavihâradhamma.

Istilah Brahma juga dipakai untuk pengertian ‘luhur’, ‘dewasa’, ‘orangtua’, dsb.
Menimbang perbandingan di atas, penerimaan brahmarûpa sebagai bentuk pujaan dalam tradisi Buddhis dengan hanya beralasan bahwa brahma dikenal baik dalam ajaran Buddha tidaklah cukup. Baik bentuk dan konsep brahmarûpa maupun persepsi pemuja terhadap brahmarûpa perlu mendapat pelurusan sedemikian rupa sehingga penghormatan yang dilakukan itu bisa dikatakan sebagai penghormatan secara Buddhis. Namun pernyataan ini adalah terlepas dari sikap kebebasan berkehendak dari pemuja sendiri. Satu hak penuh bagi seseorang, dengan dasar pemikiran dan tujuan yang disadarinya, untuk memuja satu bentuk pujaan. Ulasan ini hanya memberikan kejelasan tentang prinsip brahma di masing-masing kepercayaan. Sebab, penerimaan satu bentuk pujaan ‘luar’ ke dalam tradisi Buddhis akan berarti juga menghalalkan bentuk pujaan lain untuk masuk dalam tubuh Buddhis. Apa yang terjadi dalam agama Buddha apabila dalam tubuhnya penuh terisi dewa-dewa pujaan kepercayaan lain?


Brahmarûpa di Thailand
Berikut ini adalah sekilas tentang kehadiran Brahmarûpa ditengah-tengah masyarakat Thai. Artikel ini mengambil Thai sebagai kajian karena objek pujaan brahma yang sedang dibahas di sini berkaitan erat dengan yang ada di sana. Bisa dikatakan bahwa menjamurnya objek pujaan brahma oleh umat Buddha di Indonesia adalah pemasukan budaya dari negara itu.

Selain mewarisi tradisi Buddhis, masyarakat Thai mewarisi tradisi kaum Brâhmana pula. Ajaran Brâhmana berpengaruh di masyarakat ini tak kurang dari seribu tahun yang lalu dan masih tersisa pengaruhnya hingga kini. Kendati, ajaran Buddha telah menyebar luas di hampir keseluruhan negara sejak lebih dari seribu tahun. Ajaran Brâhmana datang ke negara ini hampir bersamaan dengan kedatangan agama Buddha ke sana. Namun, ajaran Brâhmana di sana lebih dikenal dari segi tradisi dan tata upacaranya, alih-alih dari ajarannya. Di sisi lain, agama Buddha mendapatkan tempat yang lebih resmi sebagai ‘agama’ panutan mereka.

Tradisi dan tata upacara Brâhmana pun seolah menjadi bagian dari tradisi Buddhis. Para brâhmana sendiri, sebelum memulai upacara ala tradisinya, memimpin peserta upacara memohon Pañcasîla kepada bhikkhu.
Seiring dengan berlangsungnya pengaruh tradisi Brâhmana, kehidupan masyarakat sana pun tak terpisah dari hal-hal yang berkaitan dengan kepercayaan ini. Pura-pura Brâhmana, ritual-ritual, pemujaan kepada para dewa, seperti: dewa Brahma, dewa Râhû, dewi Umâ atau Durga (pendamping dewa Siva), dewa Ganesa dan lain-lain bisa dijumpai di sana.

Di antara para dewa di atas, Brahma adalah paling populer dipuja, yang mana adalah hal yang jarang terjadi dalam masyarakat penganut kepercayaan Brâhmana di wilayah lain, meski di India sekalipun. Umat Brâhmana di wilayah lain justru cenderung memuja dewa Siva, dewa Visnu atau dewa-dewa lainnya. Jadi, meskipun masyarakat Thai mengaku penganut Buddhis, yang sebagian memang adalah penganut buddhis yang taat, sebagian lagi adalah pemuja Brahmarûpa juga. Brahmarûpa yang dipuja adalah brahma dalam kepercayaan Brâhmana, sosok dewa bermuka empat, yang mampu sang pencipta makhluk, pemberi anugerah, rejeki, dan penentu garis hidup.

Berhubungan dengan Brahmarûpa di Thai, ada sebuah legenda yang membuat patung dewa ini melejit tingkat kepopulerannya. Meskipun sebelumnya Brahma sudah dipuja oleh sebagian masyarakat Thai, puncak kepopuleran patung ini adalah baru sekitar duapuluh tahunan yang lalu. Satu hotel dengan nama Erawan, yang adalah nama seekor Gajah, dibangun di pusat pertokoan kota Bangkok. Konon pemilik hotel ingin membangun sebuah patung dewa yang menjadi penunggang gajah Erawan. Maka dibangunlah patung Brahma di pojok sebelah depan hotel, yang semestinya bukanlah patung dewa Brahma melainkan patung dewa Indra. Sebab gajah Erawan adalah wahana atau tunggangan dari dewa Indra. Sedangkan, dewa Brahma memiliki angsa sebagai wahana. Tidak diketahui kesalahan ini adalah suatu kesengajaan atau tidak. Belakangan, ada satu cerita tentang seorang wanita yang sedang di landa permasalahan, tidak tahu kemana harus bersandar, datanglah ia ke depan patung dewa Brahma yang kebetulan ia lihat di pojok sebuah hotel. Ia memohon penyelesaian masalah di hadapan sang patung. Tekadpun ia keluarkan, bahwa kalau masalahnya bisa terselesaikan, ia akan bertelanjang menari dihadapan sang patung.

Alkisah, ia benar-benar terlepas dari kegundahan akan permasalahannya. Dilakukanlah tekadnya itu. Dari mulut ke mulut, peristiwa ini mengundang sensasi besar bagi masyarakat sekitar. Para pemandu jalan pun berpropaganda kepada para pelancong manca negara, terutama yang berasal dari wilayah Asia. Para pelancong pun, yang bak sembari menyelam minum air, beradu nasib dengan memohon segala hal yang mereka inginkan. Alhasil, meskipun yang terkabulkan permohonannya itu tidak lebih dari 1 persen dari keseluruhan jumlah pemohon, gema ketenaran sang patung di pojok sebuah hotel ini menjadi ke mana-mana. Dan, celakanya, sang patung ini akhirnya dikenal dengan istilah Sie Mien Fuo (Buddha 4 muka) alih-alih Sie Mien Sen (Dewa 4 muka), hanya karena untuk memudahkan pendengaran para pelancong. Asal berupa sebuah patung dan berada di kota Bangkok, satu kota yang padat dengan pemeluk Buddhis, semuanya dianggap sebagai Fuo, patung Buddha saja.

Dari ulasan yang cukup panjang lebar di atas, kira-kira jelaslah apa yang dimaksud Brahmarûpa; bagaimana konsep dewa Brahma menurut Brâhmana dan menurut Buddhis; dan, bagaimana pula sepantasnya seorang buddhis mengerti dan menghormat dewa Brahma. Sorot baliknya tentunya kembali kepada pengikut Buddhis masing-masing.

Hati2 beberapa dari ini bentuk penipuan di Internet

Monday, January 26, 2009

Tai Shang Lao Jun



Maha Dewa Tai Shang Lao Jun (Dai Shang Lao Jun)

Maha Dewa Tai Shang Lao Jun adalah Dewa Tertinggi dari semua Dewa Dewi yang ada dalam Agama TAO. Hari besarnya adalah tanggal 15 bulan 5 Imlek.

Maha Dewa Tai Shang Lao Jun pernah tiga kali turun ke bumi, pertama sebagai Ban Ku Shi, kedua turun lagi sebagai Huang Ti, dan ketiga turun kembali sebagai Lao Zi ( ).

Dalam Agama TAO, Lao Zi lebih dikenal sebagai Nabi Agama TAO yang utama, dimana Nabi Lao Zi ( ) menulis Kitab Suci Agama TAO dengan judul Tao Tek Cing ( ).

(Kiriman dari: Akiang - Hartoyo Salli)


Walaupun Nabi Lao Zi ( ) yang mengajarkan ajaran Agama TAO, namun ajaran TAO pertama kali disebut sebagai agama oleh Zhang Tao Ling, pada zaman Dinasti Han Timur ( Tong Han ).

Karena itu secara singkat sejarah Agama TAO diyakini berasal dari Huang Ti ( Kaisar Kuning ) sejak 27 abad sebelum tahun masehi, dikembangkan oleh Lao Zi dan terorganisasi menjadi sebuah institusi Keagamaan ( Agama TAO ) yang lengkap oleh Zhang Tao Ling.

Hati2 beberapa dari ini bentuk penipuan di Internet

Sam Seng Dan Persembahan Pada Dewa

Pada jaman dahulu sudah banyak orang-orang yang datang ke klenteng mencari Tao Se - Tao Se (Guru-guru Tao) untuk meminta bantuan atau pertolongan. Ada yang menanyakan nasib dan jodoh mereka, dan ada juga untuk penyembuhan penyakit-penyakit serta meminta obat-obatan.

Tetapi pada bulan-bulan tertentu Tao Se - Tao Se itu tidak ada di klenteng karena mencari obat-obatan di hutan atau di pegunungan, seperti ginseng, jamur, dan lain-lainnya. Dalam pencarian obat ini dibutuhkan waktu berbulan-bulan lamanya.

Untuk itu para Tao Se membuat Sam Seng supaya masyarakat atau orang-orang yang datang dari jauh tidak kecewa karena Tao Se nya tidak berada di tempat.

Masyarakat yang tertolong kemudian membawa oleh-oleh untuk Tao Se - Tao Se tersebut sebagai tanda terima kasih. Karena Tao Se - Tao Se tidak berada di tempat, maka diletakkan di atas meja sembahyang. Ada juga yang datang membawa persembahan kepada Dewa.

Dari sinilah timbulnya kebiasaan mempersembahkan sesuatu kepada Dewa. Pemberian persembahan kepada Dewa ini kemudian menimbulkan persaingan di antara masyarakat itu sendiri, sehingga timbullah persembahan Sam Seng.

Di mana menurut pandangan masyarakat waktu itu Sam Seng mewakili 3 jenis hewan di dunia, yaitu babi untuk hewan darat, ikan untuk hewan laut, dan ayam untuk hewan udara. Demikianlah persembahan ini berlangsung secara turun-menurun sampai sekarangpun masih ada.

Menurut anda, dapat dibenarkankah persembahan Sam Seng ini?

Dalam Tao, Sam Seng tidak digunakan sebagai persembahan kepada Dewa.

Apa alasannya?

Mari kita pikirkan masing-masing!

Jadi cukup dengan buah-buahan saja, antara lain: apel, pear, jeruk, anggur, dll. Yang penting adalah buah-buahan yang segar dan tidak berduri serta serasi dipandang mata.

Demikianlah cerita asal usul adanya Sam Seng dan persembahan pada Dewa.

Hati2 beberapa dari ini bentuk penipuan di Internet